Saling Ejek Dan Saling Klaim Warnai Debat Capres Ketiga Amerika Serikat

Saling Ejek Dan Saling Klaim Warnai Debat Capres Ketiga Amerika Serikat
Saling Ejek Dan Saling Klaim Warnai Debat Capres Ketiga Amerika Serikat

Calon Presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, Donald Trump dan dari Partai Republik, Hillary Clinton kembali bertarung dalam acara debat capres ketiga yang berlangsung diUniversity of Nevada, Las Vegas. Pada debat yang terakhir tersebut, ada beberapa moment penting terlihat dan salah satunya yang menarik adalah bahwa Trump akan mencoba untuk membalikkan momentum. Seperti kita ketahui, bahwa dalam 2 debat sebelumnya, kepopuleran Hillary Clinton jauh diatas Trump. Kemudian yang menarik  dalam debat tersebut adanya penolakan Trump akan hasil pemilu jika dirinya kalah dan tak kalah serunya lagi, debat yang berlangsung pada hari Rabu malam waktu setempat atau Kamis pagi waktu Indonesia sempat diwarnai dengan saling ejek antar kedua kandidat

Kedua kandidat berdebat keras tentang sejumlah isu mulai dari hukum, ekonomi, imigrasi, aborsi hingga soal Vladimir Putin, Suriah dan ISIS. Sang moderator berupaya mengangkat pertanyaan tentang isu yang belum dibahas pada dua debat sebelumnya. Selama debat berlangsung, kedua calon presiden terus saling timpal sehingga memaksa moderator Wallace untuk mengehai mereka. Keduanya juga berdebat sengit soal Rusia dan presidennya, Vladimir Putin yang pernah di puji-puji Trump. Hillary juga menyinggung soal perenatasan terhadap email tim kampanye dan juga tim Partai Demokrat yang disebutnya didalangi oleh Rusia. Hillary menegaskan, pernyataan itu dengan mengutip dari 17 sumber militer dan intelejen yang memahami peretasan. Dia menyebut Trump lebih percaya kepada Putin ketimbang para pejabat AS

Selain pembahasan tadi, pada debat terakhir yang dijalani oleh kedua calon presiden, Trump ditanya oleh moderator debat Chris Wallace menanyakan mengenai transisi kekuasaan yang damai. Pada saat pertanyaan tersebut dilempar kepada kedua calon presiden, hanya Trump yang menjawab akan menunggu dan untuk sementara menunda sampai waktunya tiba. Berbeda dengan Trump, justru Hillary Clinton menjawab pertanyaan moderator dengan jawaban yang konservatif. Hillary mengatakan, bahwa demokrasi di Amerika Serikat sudah terjadi 240 tahun dan selama itu Amerika telah menjalankan pemilu dengan bebas dan adil. Ia mengatakan bahwa sudah sepantasnya kita harus menerima hasil pemilu meskipun kita tidak mungkin menyukainya.

Dalam debat ketiga kali ini, untuk pertama kalinya fokus debat pada kali ini membahas mengenai program dan kebijakkan. Tapi disela-sela debat masalah program antar kedua capres tak pelak menimbulkan saling ejek antar kandidat.

Trump menyebut Hillary sebagai wanita jahat dengan menuduh kampanye Hillary telah mengorkertrasi serangkaian tuduhan dari sejumlah wanita yang menuduh Trump melakukan pelecehan seksual. Trump juga menyebut Hillary dan Presiden Obama berada di balik kekacauan pada sejumlah kampanyenya. Dia juga menyebut Yayasan Clinton sebagai perusahaan kriminal dan oleh karena itu Hllary seharusnya dilarang mengikuti Pemilu Presiden.

Sementara itu, Hillary Clinton juga tidak mau kalah, ia juga mengejek Trump sebagai tukang hasut,  suka akan kekerasan, merendahkan perempuan dan sikap-sikap yang dimiliki Trump amat membahayakan bagi Amerika Serikat. Hillary menyatakan bahwa Trump memang punya kebiasaan suka mengeluh jika ada sesuatu yang dianggapnya tidak adil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *