Gabener Anies Legalkan Becak Sama Dengan Langgar Perda

Gabener Anies Legalkan Becak Sama Dengan Langgar Perda
Gabener Anies Legalkan Becak Sama Dengan Langgar Perda

Pandangan negatif terkait kebijakan (gabener) Anies untuk melegalkan becak terlontar dari Yayat Supriatna, selaku Pengamat perkotaan dari Univ. Trisakti Jakarta.

“Menurut saya, legalisasi becak merupakan sebuah kebijakan yang sangat tidak tepat. Kenapa? Karena, ini jelas melanggar Perda yang berlaku”, tegas Yayat.

Soal pengharaman kendaraan non mesin beroda tiga tersebut memang tertera dengan jelas di Perda (Peraturan Daerah) no 8 tahun 2007 mengenai ketertiban Ibu Kota Jakarta. Selain itu, aktifnya becak juga bisa dikatakan konflik dengan Perda no 5 tahun 2014 yang menyinggung soal pembinaan sarana transportasi kota Jakarta. Peraturan yang satu ini dengan jelas mengatakan, kalau becak tidak ikut dimasukkan dalam moda transportasi umum yang dilegalkan di Jakarta.

“Mengacu pada 2 Perda yang berlaku, jelas becak sama sekali tidak punya ruang untuk melintas lagi di Jakarta”, lanjut Yayat.

“Saya pikir Anies seharusnya bisa mencontoh Bu Risma (Tri Rismaharini, Walikota Surabaya) yang menggalakkan alih profesi kepada para penarik becak. Jika memang dikatakan, kalau Anies mau mensejahterakan wong cilik”, timpalnya lagi.

Memang sejatinya tugas seorang pemimpin kota adalah untuk mengatur wilayah kepemimpinannya dengan proporsional. Bukan sekedar menjadi tempat untuk memenuhi janji-janji politis yang dilontarkan semasa kampanye.

“Lagipula masih banyak spot-spot yang saya rasa lebih membutuhkan lebih banyak tenaga kerja daripada membuka peluang pekerjaan sekedar sebagai penarik becak. Misalkan saja sebagai penyapu trotoar. Trotoar kita sekarang diperlebar, tapi kotor. Pasukan oranye yang bertugas menjaga kebersihan harian dari sarana umum pun bisa keteter untuk mengurusi trotoar”, kata Yayat.

“Toh, gaji pasukan oranye saja sudah UMR (Upah Minimum Regional)”.

“Atau ya dipake dong program ‘Oke Oce’nya. Katanya mau memodali rakyat kecil untuk berwirausaha dan memberikan program latihan yang padat karya”, tuntas Yayat menyudahi pendapatnya soal kebijakan gabener zaman now tersebut.